Back

Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura

Rp 200.000,00

Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura ini merupakan terjemahan dari disertasi Kuntowijoyo dari Universitas Columbia pada tahun 1980 untuk memperoleh gelar Ph. D dalam studi sejarah.

Description

Description

MOJOKSTORE.COM / Non Fiksi / Peubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura 1850-1940 (Kuntowijoyo)

+++

Dalam jagad sastra Indonesia, nama Kuntowijoyo sudah bukan nama yang asing lagi. Namanya melejit lewat sejumlah novelnya yang masyhur, seperti novel ‘Khotbah di Atas Bukit” dan kumcer “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga’. Cerpen-cerpen karyanya pun banyak yang memenangkan penghargaan sastra. Tetapi, produktivitasnya tidak berhenti di sini.

Sastrawan ini juga merambah dunia nonfiksi dengan menulis sejumlah karya yang sangat berbobot dan masih digunakan sebagai referensi hingga sekarang. Salah satunya adalah buku ‘Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura’ ini. Buku ini sendiri merupakan terjemahan dari disertasinya dari Universitas Columbia pada tahun 1980 untuk memperoleh gelar Ph. D dalam studi sejarah.

Sebagai sebuah karya disertasi yang dibukukan, sudah bisa ditebak bahwa isinya pun tidak bisa jauh dari ragam bahasa penelitian yang resmi. Kuntowijoyo sendiri mengambil fokus pada perubahan sosial yang dialami dan mempengaruhi masyarakat Madura pada kurun masa 1850 – 1940. Sebagai sebuah hasil penelitian juga yang menjadikan buku ini begitu terperinci dalam mengulas aspek-aspek yang turut mempengaruhi perubahan sosial masyarakat Madura, terutama pengaruh alam dan sejarahnya.

Kuntowijoyo begitu detail sekaligus total dalam disertasinya ini. Hampir-hampir seluruh bidang kehidupan masyarakat Madura dipaparkan dengan sedemikian terperinci. Dan karena sifatnya sebagai sebuah hasil penelitian, maka bisa dipastikan kalau karya dan data di dalam buku ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Salah satu yang menarik dalam buku ini adalah kultur pertanian tanah di Madura yang bercorak tanah tegalan dengan tanaman-tanaman lahan kering seperti tebu dan tembakau. Ketika harga dua komoditas ini melejit, Pemerintah Kolonial Belanda memerintahkan penanaman tebu dan tembakau secara besar-besaran di Madura sehingga lahan tanaman pangan pun tergusur. Ketika jumlah padi lahan basah sedikit, dan maish tergusur untuk penanaman temu dan tembakau, maka tanaman pangan pun semakin langka. Akibatnya, kelaparan pun melanda. Peristiwa inilah yang kemudian mendorong pecahnya pemberontakan petani pada abad ke-19.

Fakta-fakta lain yang turut disinggung di buku ini di antaranya bagaimana sejarahnya Madura menjadi dikenal sebagai pulau garam. Juga, mengapa masyarakat Madura sangat kental dengan kultur NU. Sebuah buku yang akan sangat bermanfaat bagi para pemerhati, pelaku, dan pengamat budaya serta sejarah masyarakat Madura.

Additional information

Additional information

Weight 0.7 kg
Penulis

Kuntowijoyo

Penerbit

Ircisod

Tahun Terbit

2002

Jumlah Halaman

679

Dimensi

14.5 x 20.5 cm

ISBN

9789799471086

Jenis Sampul

Hard Cover