Resensi

Darmanto Simaepa dan Kebun Inspirasi

Percayalah, hampir tidak ada cara ampuh mengobati stress dan air mata selain tamasya. Mulai dari tidur-tidur cantik, membaca buku silat, pacaran kalau kebetulan pembaca tidak berstatus available, memancing ikan, menggali sumur, twitwar di Twitter, hingga plesir menikmati pemandangan kebun yang ijo royo-royo. Klop dengan uraian KBBI bahwa tamasya adalah perjalanan untuk menikmati pemandangan, keindahan alam.

Nah, Darmanto Simaepa, yang menyebut dirinya “antropolog amatir dan pesepakbola paruh waktu”, menyodorkan sajian apik untuk menepis ruwet kelindan kejenuhan di ranah penulisan sepakbola. Buku Tamasya Bola: Cinta, Gairah, dan Luka dalam Sepakbola ini hadir dengan artikel-artikel bertema sepakbola yang menawarkan kesegaran, suatu keasyikan yang jarang kita cecap.

Buku bersampul kuning dengan mozaik hijau lapangan sepakbola dan gawang sederhana yang menyenangkan untuk mata ini dibagi dalam empat bahasan besar.

Bagian pertama diberi judul PESTA & GELAK SEDIH berisi 8 artikel yang berbicara soal gegap kemenangan yang diiringi kesedihan sebagai pengimbangnya. Uniknya, ada frasa “Gelak Sedih” yang membuat bagian ini begitu memikat untuk dibaca tak hanya satu kali.

Pada drama “Final 10 Menit”, Darmanto berkisah bahwa final Liga Champions 2015 baru dimulai pada menit 55, ketika Juventus menyamakan kedudukan lewat kaki Cladio Marchisio. Sebelumnya, “Si Nyonya Tua” tertinggal 1 gol setelah Ivan Rakitic memberi Barcelona keunggulan di paruh awal laga.

Rentang 10 menit itulah Juventus mampu membuat perut seorang fans Barca menjadi mulas dan adrenalin terpacu. Maklum, sebelumnya, Barcelona menguasai laga dan nampak nyaman menghadapi jawara Serie A yang di semifinal mengandaskan Real Madrid tersebut. Tapi ketika jala Marc-Andre ter Stegen terkoyak, mood laga menjadi berubah, Juve tampak lebih mantab.

Skor imbang 1-1 membuat Darmanto cemas dan selebat kengerian kekalahan The Dream Team Barca di Final 1994 dari tangan AC Milan kembali terbayang. Meski hanya 10 menit, namun waktu pendek yang mengaburkan batas menang dan kalah tersebut layak disebut sebagai gambaran final sebenarnya dan diakhiri dengan pesta Barcelona.

Drama lainnya Darmanto beri judul “Remontada, Semoga!”. Remontada adalah bahasa Spanyol yang secara bebas dapat diterjemahkan menjadi to comeback. Di sepakbola, remontada dapat digunakan untuk menggambarkan situasi sebuah tim membalikkan kekalahan menjadi kemenangan yang dramatis. Artikel ini mengajak para fans Barcelona untuk terus mempertahankan “gelak” di tengah “kesedihan” meski baru saja kalah dari AC Milan dengan skor 2-0 (Liga Champions 2013).

Bagi Barcelona, remontada bisa menjadi kepingan yang tertinggal dari sebuah tim besar. Pernah merasakan kekalahan, namun lalu bangkit dan menang secara dramatis akan memberi tim besar keyakinan untuk kembali menatap laga-laga berat selanjutnya.

Dan memang, Barcelona, dengan generasi emasnya, mampu membalikkan keadaan, menang 4-0 dari Milan, namun kalah telak dengan agregat 7-0 di semifinal dari Bayern Munchen. Setidaknya, pengalaman remontada sudah pernah dirasakan Barcelona, yang menjadi juara di Liga Champions edisi 2015. Berkah remontada?

Drama menguras air mata namun penuh siraman inspirasi lainnya adalah “Takdir Zambia”, yang berkisah soal syahdunya keberhasilan Zambia memenangi Piala Afrika 2012. Darmanto menyebutnya “realisme magis sepakbola”. Para pemain Zambia bermain untuk kenangan pendahulu mereka yang meninggal dalam kecelakaan pesawat Buffalo DHC-5D di Gabon. Saat itu, semua penumpang pesawat meninggal dunia, kecuali Klusha Bwalya.

Mengalahkan Pantai Gading, favorit turnamen lewat adu penalti, pemain-pemain Zambia berkumpul membentuk lingkaran di sudut lapangan. Mereka berangkulan, mungkin berdoa, dan sesekali menengadahkan tangan. Sebuah persembahan luhur untuk para almarhum generasi emas Zambia yang pernah mengalahkan Italia yang diperkuat Roberto Baggio dengan skor 4-0. Air mata haru, sedikit muram, namun lega di tengah pesta.

Bagian kedua buku ini diberi judul PE(R)SONA. Di bagian ini, Darmanto menunjukkan romantisme ganjilnya akan sosok Jose Mourinho. Darmanto memang menghormati penganggur dari Setubal tersebut. Namun jelas, ia bukan penyuka taktik Mou yang disebutnya sepakbola negatif.

Kesengitan Darmanto kepada Mou ditumpahkan dalam dua artikel berjudul “Por Que, Mou?” dan “Tak Ada Tempat Pulang”.

Di artikel yang disebut pertama, bapak satu anak ini bahkan berprasangka kepada sikap Mou ketika konferensi pers. Mou, yang biasanya penuh percaya diri yang menyumbar psy-war, mendadak terlihat lesu darah. Melihat itu, Darmanto menganalisisnya sebagai “bagian kisah lain dari Mou-yang-cerdik”. Romantis sekali.

Lalu, di artikel yang disebut kedua, penulis yang tengah menyelesaikan disertasinya ini memandang Mou gagal menemukan “rumah” yang ideal baginya dan semua kiprah Mou di Chelsea dan Real Madrid adalah obsesinya akan Barcelona.

Maklum, Mou pernah “ditolak” oleh manajemen Barca, yang akhirnya memilih Pep Guardiola sebagai pelatih. Lucunya, ada kemungkinan Mourinho menjadi pelatih anyar Manchester United menggantikan Louis van Gaal musim depan. Lucu karena Darmanto juga fans United. Mourinho dan Darmanto bahu-membahu mengerek prestasi United tentu menyenangkan untuk disimak.

Selanjutnya adalah bagian ketiga yang diberi judul “KUASA & POLITIK”. Bagian ini banyak berbicara soal politik dan pertaliannya dengan sepakbola.

Melalui “Andai Sepp Blatter Adalah Raja Mataram”, Darmanto berusaha mencari persamaan di tengah perbedaan antara Blatter dengan Sri Sultan, Raja dan Gubernur Yogyakarta. Keduanya merupakan tokoh pemimpin yang merasakan perubahan dari corak feodalisme ke industrialisme.

Blatter yang meneruskan tongkat estafet dari Joao Havelange dan membawa FIFA menuju modernisasi global yang berhasil, meski tidak bersih-bersih amat, sedangkan Sri Sultan yang mau tau mau merasakan “legitimasi cultural mengikuti keterpaksaan politik”. Dan, jika melihat wajah kota Yogyakarta sekarang: penggencaran modal.

Bagian keempat buku ini diberi judul sederhana: TAMASYA. Bagian yang segar dan membahagiakan ini akan membawa kita masuk ke petak-petak kebun pengalaman Darmanto sepanjang hidupnya. Petak-petak pengalaman yang penuh keriaan, kesukaan seperti hakikat sepakbola sebagai permainan. Sebuah inspirasi.

Boxing Day ala Mentawai” merupakan sajian menyenangkan akan pengalaman Darmanto ketika berproses di kepulauan tersebut. Di Mentawai, sepakbola akan menjadi penyemarak di tengah nuansa Natal.

Tak hanya satu-dua hari seperti boxing day di Inggris, pesta di Mentawai berlangsung hingga 2 minggu. Dan, sepakbola selalu diadakan sebagai perayaan yang menyenangkan, tanpa sekat usia, kemampuan, hingga gambar politik.

Artikel jenaka berjudul “Sepatu Bot, Sihir tanpa Sepatu”, dan “Cawat” adalah bentuk tamasya sebenarnya. Menyenangkan, bahkan ketika dibaca untuk ketiga kalinya.

Artikel ini mengajak kita untuk terus tersenyum membayangkan memainkan sepakbola menggunakan sepatu bot. Jangan salah, sepatu bot ini penting karena di bawah lapangan terdapat akar popou, yang mana akar rhizome-nya tajam dan bisa melukai kaki. Jadi, bermain di tengah lapangan berlumpur, memakai sepatu bot, dan luka-luka di kaki. Coba pembaca bayangkan kesenangannya.

Lalu, masih di artikel yang sama, ada cerita dari desa Muntei, di mana dua pemain paling terkenal bernama Jingglo dan SiMax adalah Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi bagi desa tersebut. Kedua pemain ini paling menonjol, asal tidak memakai sepatu ketika bermain.

Cerita sedih, namun kocak hadir ketika SiMax gagal lolos seleksi tim Porda di Kota Padang. SiMax, yang kondang di daerahnya, gagal lolos karena harus mengenakan sepatu ketika seleksi.

Cerita ketiga di artikel tersebut adalah soal cawat khas orang Mentawai, yang disebut kabit. Ini cerita seseorang bernama Teu Isak, yang bermain bola mengenakan kabit. Selain menggunakan kabit, Teu-Isak juga acap kali mengenakan tas pinggang yang berisi tembakau dan lintingan daun nipah. maka sedikit menggelitik melihat Teu-Isak berlari-lari sambil menghisap lintingan daun nipah berisi tembakau.

Seperti kata Darmanto di bagian kedua: “Pemain-pemain hebat adalah figur yang membuat kesalahan”, maka buku ini pun tak lepas dari kekeliruan.

Terdapat beberapa artikel, di mana judul di Daftar Isi tidak sesuai dengan judul di dalam buku. Boleh dikata, kesalahan ini sedikit mengurangi potongan informasi yang coba pembaca gali lewat Daftar Isi. Beberapa kali nama pemain pun tidak ditulis secara lengkap terlebih dahulu di awal artikel yang bisa saja mengurangi nilai referensi yang harusnya dinikmati pembaca. Selain itu, terdapat juga beberapa kesalahan penulisan.

Terlepas dari beberapa kesalahannya, buku ini memberikan perspektif lain dari penulisan-penulisan soal sepak bola yang di beberapa media yang hanya berisi berita, yang celakanya ditulis dengan gaya monoton.

Bagai sebuah kebun, lembar-lembar Tamasya Bola ini menawarkan kejenakaan, kesenangan, kesedihan, dan diksi menarik yang bisa dipetik sebagai inspirasi. Darmanto menawarkan kebun inspirasinya bagi dunia kepenulisan, sudah sewajarnya kita bertamasya dengan gembira, bukan?

 

*Ditulis oleh Yamadipati Seno, penulis di situs web sepak bola Fandom.id. Tulisan ini pertama kali diterbitkan oleh Detik Sport (rubrik About The Games).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *