resensi-buku-bola-indonesia
Resensi

Jalan Berliku Merawat Sepakbola Indonesia

Sepakbola begitu melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Buktinya, dari 260 juta masyarakat Indonesia, hampir 2 dari 3 tak ada yang tak mencintai sepakbola Indonesia. Mengutip dari cuitan Agus Mulyadi, salah satu blogger kondang di Indonesia, meskipun hutangnya banyak, tagihan listrik membengkak, atau anak belum bisa bayar uang sekolah, asalkan timnas sepakbola Indonesia menang, maka beban masyarakat terasa ringan.

Masalahnya, boleh dibilang prestasi timnas Indonesia fluktuatif. Kadang di atas, tapi lebih banyak di bawah. Prestasi pun tak bisa diharapkan kepada timnas senior melainkan ke timnas U-23, U-19 bahkan di bawahnya.

Mengapa prestasi yang baik jarang menghinggapi timnas Indonesia? Salah satunya adalah olah politik yang melingkupi sepakbola Indonesia. Maka tak heran, Faridhian Anshari menganggap politiklah yang membuat sepakbola Indonesia tak pernah berkembang.

Tulisannya termaktub dalam buku Merawat Sepakbola Indonesia. Kita, sebagaimana masyarakat Indonesia, terlalu sibuk dengan urusan pemilihan ketua PSSI, tetapi kita lupa bahwa ada yang lebih penting daripada hal tersebut. Yaitu, pembinaan usia muda.

Anak-anak yang menyenangi bahkan pada akhirnya menggeluti sepakbola sebagai jalan hidup, sering kali tergeser dan tersingkirkan dalam kontestasi sepakbola profesional. Mereka kalah dengan pemain asing, lebih-lebih dengan pemain naturalisasi.

Dan naturalisasi inilah yang justru kerap menghiasi komposisi timnas senior Indonesia. Rijal Fahmi mengatakan bahwa sepakbola Indonesia akan menjadi tidak baik-baik saja jika terus mengandalkan naturalisasi yang dianggap sebagai cara instan meraih prestasi.

Baca juga:Resensi ‘PERSIB dan Kisah Kompetisi Perserikatan Tahun 1978’

“Naturalisasi, Buah Simalakama Sepakbola Indonesia?” menjadi pertanyaan yang selama ini belum terjawab. Begitu banyak pemain naturalisasi, namun belum juga mengangkat prestasi timnas Indonesia.

Naturalisasi dipandang sebagai cara instan, termudah untuk meningkatkan prestasi. Padahal, belum tentu juga. Justru naturalisasi malah dipandang sebagai komersialisasi agar citra klub atau timnas makin meningkat.

Bagaimana dengan pembinaan anak muda? “Sepakbola di Tanah Porodisa” menjadi jawabnya. Ada geliat dan gairah anak muda yang meyakini bahwa dengan sepakbola, harkat dan martabat hidup mereka semakin baik.

Harapannya, tentu saja mereka bakal mengenakan logo Garuda di jersey Merah Putih. Logo sakral dan mimpi bagi pesepakbola agar hal tersebut hadir dalam kenyataan.

Tak hanya persoalan prestasi melainkan juga aktivitas suporter yang ingin mengelola dan memajukan persepakbolaan wilayah mereka. Setidaknya ada tiga wilayah yang ditulis dalam buku ini: Madiun, Bekasi, dan Cirebon.

Tiga kota yang sering kali jauh dari hingar bingar sepakbola Indonesia khususnya dalam kasta tertinggi yaitu Liga 1. Bahkan, sudah tidak terdengar, ternyata malah ada sekelumit masalah yang tak bisa terjawab sampai saat ini.

Namun, setidaknya merawat sepakbola Indonesia masih akan terus didengungkan. Jika tak mampu melalui prestasi, pengelolaan merek lokal bisa diusahakan. Banyak merek lokal yang sebenarnya layak menjadi jersey timnas Indonesia.

Beberapa klub di Indonesia pun mulai berani mengenakan jersey dengan merek lokal. Selain harganya bersahabat, kualitasnya pun tak kalah hebat dengan jersey luar. Dengan demikian, pengelolaan dalam hal merchandise pun bisa dialokasikan untuk peningkatan fasilitas klub.

Baca juga: Resensi ‘Goodbye Pele’ karya Eddward S. Kennedy

Hari ini, dengan pelbagai masalah dan juga prestasi yang tak kunjung baik, masih ada asa untuk timnas U-19 dan U-23. Untuk yang terakhir, mereka sedang berkontestasi pada Sea Games 2019.

Apakah mereka mampu berprestasi pada Sea Games 2019 yaitu meraih medali emas yang terakhir kali diperoleh tahun 1991? Atau justru malah sebaliknya? Yang jelas, sebagai pecinta sepakbola Indonesia, kita berharap timnas meraih prestasi maksimal.

“Merawat Sepakbola Indonesia” adalah upaya pecinta sepakbola untuk terus mengelola dan berharap agar persepakbolaan Indonesia makin baik. Ada kegundahan, pesimis namun juga rasa optimis dari setiap pecinta. Sepakbola Indonesia memiliki banyak masalah, itu jelas ada.

Yang paling penting adalah buku ini adalah upaya kecil dari sebagian masyarakat Indonesia untuk menumbuhkan budaya literasi khususnya olahraga sepakbola.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *