Resensi

Arsenal Berhati Nyaman: Panduan Menjadi Fans Arsenal yang Bijaksana

Menjadi penggemar Arsenal pasca usainya era invincible tidaklah mudah. Penggemar harus menghadapi serangkaian inkonsistensi permainan Arsenal dalam jangka panjang. Tercatat 9 tahun Arsenal alpa menjadi juara di semua kompetisi.

Beberapa faktor diyakini menjadi penyebab. Dari pelatih yang kurang cakap meracik taktik di era sepak bola modern hingga pemain yang inkonsisten tiap minggunya. Buruknya performa Arsenal tersebut disinyalir membuat maraknya penggemar Arsenal mengambil jalur glory hunter. Bijakkah hal demikian dilakukan oleh seorang penggemar, bersorak saat tim menang tapi banyak mengumpat saat tim kalah?

Jika kalian masih bertahan dengan pilihan menjadi glory hunter, ada baiknya menambah wawasan mengenai Arsenal. Namun, saya tak lantas mengharuskan kalian membaca buku ini. Hanya saja saya memang ingin memberi sedikit gambaran mengenai buku ini.

Melalui informasi yang diperoleh dari instagram, buku ini setidaknya menjadi salah satu buku terlaris di Mojok Store.  Tentunya bukan merupakan hal yang berlebihan jika saya menaruh harapan tinggi pada buku ini. Buku ini membahas mengenai segala hal mengenai Arsenal murni dari sudut pandang si penulis sendiri. Dalam buku ini terdapat 23 judul tulisan yang kemudian dibagi kedalam 4 bab.

Belajar Mencintai Proses

“Pada akhirnya, melepas Wenger adalah usaha untuk berlutut di depan kebun inspirasi.” (hlm.8)

Pada bab berjudul “Arsene Wenger” yang berisi lima tulisan ini, penulis membahas mengenai Arsene Wenger pasca ia memutuskan untuk berhenti menukangi Arsenal. Hal ini bisa dilihat dari tanggal di mana esai-esai pada bab ini diterbitkan. Kalau boleh saya mengakui, mayoritas tulisan pada bab ini berhasil membuat saya terharu saat membacanya.

Arsene Wenger, seperti dijelaskan penulis pada bab ini, merupakan sosok yang mempunyai andil  besar dalam mengantarkan nama Arsenal yang kita kenal sekarang. Arsenal menjadi sebuah nama besar dengan proses yang panjang.

Kita tahu, banyak klub yang dulunya tidak terlalu diperhitungkan kini berubah menjadi salah satu raksasa sepak bola dunia berkat kucuran dana dari taipan minyak. Dengan suntikan dana yang fantastis, tak sulit bagi mereka mewujudkan Starting Line-up pemain bintang dan membeli pelatih yang bisa menjamin gelar juara.

Hal inilah yang tampaknya tidak pernah akan terjadi dalam skuad Arsenal asuhan Wenger yang begitu mencintai proses. Seperti yang ditulis Seno, “penghargaan akan proses membuat sepak bola kembali menjadi menjadi “manusia”, bukan mesin uang semata. Hanya pesona dengan hati baja yang akan tahan melewati sebuah proses pendertaan untuk kemakmuran generasi selanjutnya”. (hlm. 21)

Penulis seolah menyadarkan penggemar yang sempat terpecah dalam kubu #WengerOut dan #InWengerWeTrust pada satu hal yang cukup urgen. Keberatan kalian akan kemandekan prestasi Arsenal pasca era invincible bukanlah apa-apa dibandingkan apa yang telah Wenger lakukan terhadap semua elemen yang ada di klub ini. Apabila pelatih pasca Wenger berhasil membawa Arsenal pada jalur kemenangan, jalur yang ia tempuh adalah hasil garapan dari Wenger. Ada atau tidak adanya Wenger dalam Arsenal, mereka sudah menjadi satu bagian yang utuh.

BACA JUGA:   Mengenal Brasil dari Berbagai Sisi

Arsenal dan Pemain: Dua Bab Penuh Tanda Tanya

Harus saya akui butuh waktu lama untuk menyelesaikan kedua bab ini karena saya lebih suka membaca kembali bab 1. Pada bab Pemain yang berisi 7 buah judul tulisan ini mayoritas membahas Ozil, kemudian beberapa di antaranya membahas Xhaka dan Henry.

Yang saya pertanyakan di sini adalah dari sekian banyaknya pemain Arsenal dengan karakteristik unik dan skill memumpuni, mengapa hanya 3 pemain tersebut yang dibahas secara detail dalam buku ini? Mengapa penulis tidak membahas pemain unik Arsenal yang lain, misal Abou Diaby yang merupakan hafidz 19 juz al-quran atau Nicklas Bendtner dengan kasus-kasus  kriminalitasnya?

Akan tetapi, satu hal yang sangat saya setujui di bab ini adalah nilai yang coba disampaikan penulis bahwa pemain juga manusia. Menyalahkan pemain dengan performa buruk saat Arsenal mengalami kekalahan bukanlah hal bijak. Tidak selamanya pemain bisa selalu konsisten dengan performa permainanya. Penting bagi para penggemar untuk mengetahui karakteristik dari setiap pemain.

Untuk bab bertajuk Arsenal, penulis lebih banyak membahas mengenai filosofi dari klub itu sendiri. Judul buku ini diambil dari salah satu judul tulisan dalam bab ini, “Arsenal Berhat Nyaman : Sebuah kritik identitas”. Dalam tulisan tersebut, penulis merelasikan Arsenal dengan kota Jogja yang akrab dengan gelar nyaman.

Jika boleh berpendapat, tulisan di bab ini begitu asing dan tidak menarik untuk dibaca. Terlebih saat sampai pada tulisan berjudul “Menemukan Langgam Lawas Arsenal” yang sangat bertolak belakang dengan apa yang saya baca dan tangkap di bab pertama. Tulisan yang pernah diterbitkan pada tanggal 17 Januari 2018 ini mengisyaratkan kekecewaan penulis terhadap kinerja Wenger. Seno menulis, “Arsenal seperti kehilangan jati diri, performa menurun seiring sulitnya pelatih untuk mengikuti perkembangan zaman.”.(hal 96)

BACA JUGA:   Darmanto Simaepa dan Kebun Inspirasi

Keluar Jalur

Membaca tulisan yang ada di bab “Indonesia”, penulis berhasil membuat saya merasa seperti sedang tidak membaca buku Arsenal Berhati Nyaman. Tulisan pada bab ini seperti tidak merepresentasikan Arsenal. Pasalnya, bab ini membahas mengenai geliat sepakbola yang ada di Yogyakarta.

Saya kurang paham, nengapa penulis memasukkan tulisan berlatar belakang kota Yogyakarta ke dalam buku ini. Apakah mungkin ini berkaitan tentang salah satu tulisan di bab sebelumnya yang kebetulan merelasikan antara kota Jogja dengan Arsenal?

Bab yang membahas mengenai geliat klub-klub sepak bola di Yogyakarta ini tetap membuat saya tidak menemukan relasi antara kedua klub yang dibahas penulis dengan Arsenal. Bahkan nama kelompok suporter salah satu klub dari Jogja terdengar sangat keItali-italian sekali.

Mungkinkah relasinya ditarik karena karakteristik permainan tim di Jogja yang sangat British dengan mengungsung Kick and Rush ? Sepertinya juga tidak. Atau mungkinkah kesamaan kondisi para fans dan respon mereka terhadap stagnaisasi prestasi yang terjadi dalam klub ? Ya bisa jadi sebenarnya.

Tulisan-tulisan dalam buku ini, baik yang menurut asumsi saya berkaitan atau tidak dengan tema besar yang diangkat, sesungguhnya mengungkapkan tentang cara yang baik untuk menjadi seorang penggemar sebuah klub. Dijelaskan juga dalam buku ini, menjadi fans dari sebuah klub bukan semata tentang kemenangan di setiap pertandingan dan berujung gelar di akhir musim, tapi lebih kepada bagaimana kemudian fans menemukan identitasnya dan menjadi satu dengan klub itu sendiri.

Jika menjadi fans sebuah klub hanya berorientasi pada kemenangan dan trofi semata, harus kita sebut apa orang yang selalu memadati stadion sebuah klub yang terdegradasi akibat menelan lebih banyak kekalahan daripada kemenangan?

***

Artikel ini pertama kali dipublikasikan oleh Ekspresi Online, pada tanggal 6 November 2018. Ditulis oleh Nurkhafidotul Khasanah.

Komentar